Erupsi Gunung Anak Krakatau dalam Angka
menerus sejak Jumat (4/9/2026) dengan status level III atau siaga, melontarkan abu vulkanik yang menyebar ke lima provinsi yaitu Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu sehingga beberapa penerbangan dibatalkan. Erupsi berupa lava air mancur ini disertai dentuman dan getaran kuat yang dirasakan warga di Banten sejak pukul 01.00 WIB, serta menghasilkan gempa letusan dengan amplitudo 70 mm. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan aktivitas erupsi sudah terekam sejak Juli 2026 dengan puncak pada 5 September 2026, menandakan suplai magma dan gas masih berlangsung sehingga Badan Geoli
Poin-Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau erupsi terus-menerus sejak Jumat (4/9/2026).
- Erupsi menghasilkan getaran kuat dirasakan warga, membuat pintu dan jendela bergetar.
- BPBD Banten melaporkan getaran terjadi beberapa kali mulai pukul 01.00 WIB pada Sabtu (5/9).
- Warga melaporkan getaran kuat kedua pada pukul 07.00 WIB Sabtu (5/9).
- Status Gunung Anak Krakatau ditetapkan Level III (siaga) pada 5-6 September.
- Pos Pantau Pasauran mencatat 1 kali gempa letusan dengan amplitudo 70 mm.
- Kementerian ESDM menginterpretasikan erupsi sebagai fenomena 'Lava Fountain' (lava air mancur).
- Abu vulkanik menyebar ke lima provinsi: Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, Bengkulu.
- Erupsi berdampak pada wilayah Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.
- Beberapa perjalanan penerbangan dibatalkan demi keselamatan penumpang.
- Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terekam sejak Juli 2026.
- Puncak aktivitas erupsi terjadi pada 5 September 2026.
- Badan Geologi mengonfirmasi suplai magma dan gas masih berlangsung di tubuh gunung.
- Pemantauan dilakukan menggunakan data VONA, VAAC Darwin, dan citra satelit Himawari-9 BMKG.
- Kementerian ESDM mengimbau masyarakat tetap di dalam ruangan dan mengikuti informasi resmi pemerintah.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh DetikNews.