PVMBG: Sebaran Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau 2026 Lebih Luas Daripada 2018
PVMBG melaporkan sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 lebih luas dibanding erupsi 2018 karena erupsi berlangsung menerus selama sekitar 25 jam dan didukung pola angin musim kemarau, meski skalanya tidak lebih besar. Saat ini aktivitas gunung kembali didominasi erupsi Strombolian singkat dan berulang sehingga sebaran abu diperkirakan mulai berkurang. Dampak sebaran abu tersebut menyebabkan sejumlah bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, masih ditutup sementara.
Poin-Poin Utama
- Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung menghasilkan sebaran abu vulkanik lebih luas daripada erupsi 2018.
- Kepala PVMBG Rita Susilawati menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin (7/9/2026).
- Abu menyebar luas karena erupsi berlangsung menerus selama sekitar 25 jam.
- Erupsi 2018 menyebabkan longsoran sebagian tubuh gunung dan tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018.
- Ketinggian vertikal abu saat erupsi 2018 sempat mencapai lebih dari 55.000 kaki pasca-runtuhnya tubuh gunung.
- Sebaran lateral abu 2026 lebih luas akibat pola angin musim kemarau di berbagai lapisan ketinggian.
- Rita menyatakan skala erupsi 2026 tidak lebih besar daripada erupsi 2018.
- Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini didominasi erupsi Strombolian yang singkat dan berulang.
- Produksi dan luas sebaran abu diperkirakan akan mulai berkurang.
- Episode erupsi menerus terjadi sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.
- BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
- Identifikasi klaster dilakukan melalui informasi PVMBG, VAAC Darwin, dan analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB.
- Bandara Soekarno-Hatta masih ditutup sementara akibat sebaran abu tersebut.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh DetikNews.