Menyerap Risiko Geopolitik Imbas Krisis Selat Hormuz
negara Asia Tenggara, dengan Indonesia tampak lebih mampu menyerap guncangan berkat ketergantungan langsung terhadap pasokan energi kawasan Teluk yang lebih rendah serta cadangan batu bara dan gas alam yang dapat menjadi substitusi. Namun, kemampuan menahan transmisi harga tidak sama dengan kemampuan menghilangkan biaya krisis, karena harga minyak Brent yang melonjak 27% dan harga gas yang naik 74% akan berdampak pada inflasi dan berpotensi mendorong defisit APBN melewati 3% terhadap produk domestik bruto jika kenaikan harga berkepanjangan. Riset IIFA-UIII menunjukkan kerentanan tersembunyi Indonesia berupa ketergantungan impor minyak mentah sebesar 20,5%, LPG sebesar 37,1%, dan sulfur sebesar 70,2% dari negara-negara kawasan Teluk yang berkaitan dengan Selat Hormuz, yang dapat menyebabkan gangguan menjalar dari sektor energi ke ketahanan pangan dan industri hilirisasi.
Poin-Poin Utama
- Penutupan Selat Hormuz berdampak berbeda terhadap negara-negara di Asia Tenggara.
- Di Filipina, gangguan pasokan energi berkembang menjadi persoalan transportasi, kelistrikan, pangan, dan daya beli.
- Filipina menghindari kelangkaan dengan mencari sumber minyak alternatif tetapi biaya impor minyak mentah dan produk olahan meningkat lebih dari dua kali lipat.
- Indonesia menjaga pasokan bahan bakar tetap tersedia dengan harga BBM bersubsidi dan tarif listrik yang tidak mengalami lonjakan.
- Ketergantungan langsung Indonesia terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk lebih rendah dibandingkan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
- Indonesia memiliki batu bara dan gas alam yang nilainya meningkat ketika negara lain mencari substitusi bagi minyak.
- Pertamina dan PLN berperan penting dalam menjaga pasokan energi di Indonesia.
- APBN memungkinkan pemerintah mempertahankan subsidi dan kompensasi energi.
- Dalam waktu kurang dari dua minggu setelah eskalasi konflik, harga minyak Brent naik sekitar 27% menjadi US$91,8 per barel.
- Harga gas meningkat sekitar 74% dalam waktu kurang dari dua minggu setelah eskalasi konflik.
- Kenaikan harga energi sebesar 10% berpotensi menaikkan inflasi tahunan komponen energi antara 0,34% dan 0,61%.
- Kenaikan harga energi juga berdampak pada biaya manufaktur, arus modal keluar, pelemahan rupiah, peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah, dan naiknya premi risiko Indonesia.
- Kenaikan harga minyak yang berkepanjangan dapat mendorong defisit APBN melewati 3% terhadap PDB apabila tidak disertai perubahan postur anggaran.
- Sekitar 20,5% impor minyak mentah Indonesia berasal dari pemasok kawasan Teluk yang berkaitan dengan Selat Hormuz.
- Keterpaparan impor LPG Indonesia dari kawasan Timur Tengah mencapai 37,1%.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh DetikNews.