Badan Geologi: Dentum di Bandung Efek Gelombang Akustik Anak Krakatau
Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat (4/9) malam berasal dari gelombang akustik berfrekuensi rendah akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Getaran tersebut menjangkau ratusan kilometer karena karakteristik infrasound yang dapat merambat jauh dalam kondisi atmosfer tertentu, sebagaimana fenomena serupa pernah terjadi pada erupsi Gunung Kelud dan Gunung Lewotobi Laki-Laki. Badan Geologi memastikan fenomena ini tidak berbahaya bagi struktur bangunan, berbeda dengan analisa awal BMKG yang menyatakan dentuman tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Poin-Poin Utama
- Suara dentuman terdengar warga Bandung Raya, Jawa Barat, Jumat malam (4/9).
- Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan suara berasal dari gelombang akustik erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Kepala Badan Geologi Lana Saria mengonfirmasi kesesuaian waktu erupsi dan sinyal pada stasiun pemantauan.
- Fenomena terjadi pada 4–5 September 2026.
- Gelombang akustik berfrekuensi rendah (infrasound) merambat ratusan kilometer.
- Perambatan dipengaruhi dinamika atmosfer tertentu.
- Badan Geologi memastikan getaran tidak berbahaya bagi struktur bangunan.
- BMKG menyatakan dentuman tidak berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Kepala BMKG Kelas I Bandung Suaidi Ahadi menyebut jarak terlalu jauh untuk mendengar erupsi Krakatau.
- BMKG menjelaskan dentuman dapat caused oleh swarm earthquake, gempa kawasan karst, atau gempa runtuhan.
- Fenomena serupa pernah terdengar saat erupsi Gunung Kelud hingga Jawa Tengah.
- Fenomena serupa juga terdengar saat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki hingga Maumere dan Pulau Alor.
- Dentuman serupa pernah terdengar di wilayah Cianjur saat gempa 2022.
- Analisis Badan Geologi dan BMKG berbeda mengenai asal suara dentuman.
- Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak menunjukkan hubungan langsung dengan dentuman di Bandung Raya.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh CNN.