SCAF 2026 Perkuat Kolaborasi Global untuk Pengelolaan Karbon Tanah dan Pertanian Berkelanjutan
IPB University melalui Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan bekerja sama dengan Himpunan Alumni Tanah IPB menyelenggarakan Konferensi Internasional SCAF 2026 pada Oktober 2026 untuk memperkuat kolaborasi global dalam pengelolaan karbon tanah dan pertanian berkelanjutan, dengan diikuti lebih dari 200 peserta dan 47 presenter ilmiah. Rector IPB University menekankan bahwa masa depan pertanian bergantung pada kesehatan tanah, ketersediaan air, efisiensi sumber daya, serta integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi internasional. Sesi keynote dari Kementerian PPN/Bappenas menyoroti pentingnya mengintegrasikan pengelolaan karbon tanah ke dalam kebijakan pembangunan pertanian dan pembangunan rendah karbon.
Poin-Poin Utama
- SCAF 2026 adalah konferensi internasional pertama tentang karbon tanah dan masa depan pertanian.
- Konferensi ini diselenggarakan pada tanggal 12 hingga 13 Oktober 2026.
- Penyelenggara SCAF 2026 adalah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University bekerja sama dengan Himpunan Alumni Tanah IPB.
- Konferensi SCAF 2026 diikuti lebih dari 200 peserta secara luring dan daring.
- SCAF 2026 menghadirkan 47 presenter ilmiah dari berbagai institusi.
- Konferensi dibuka oleh Rector IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet.
- Konferensi juga dibuka oleh Ketua Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Dr. Ir. R.A. Dyah Tjahyandari Suryaningtyas.
- Konferensi juga dibuka oleh Dekan Fakultas Pertanian IPB University Prof. Dr. Ir. Suryo Wiyono.
- Pembukaan resmi SCAF 2026 berlangsung pada 12 Oktober 2026.
- Rector IPB University menyatakan bahwa masa depan pertanian ditentukan oleh kesehatan tanah, ketersediaan air, dan efisiensi sumber daya.
- Pembicara kunci dalam konferensi adalah Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto.
- Konferensi menekankan pentingnya pengelolaan karbon tanah untuk ketahanan pangan.
- Konferensi menekankan pentingnya pengelolaan karbon tanah untuk pertanian berkelanjutan.
- Konferensi menekankan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi internasional.
- Sesi konferensi membahas pengintegrasian pengelolaan karbon tanah ke dalam kebijakan pembangunan pertanian dan rendah karbon.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.