Anak Krakatau Erupsi Lagi, Ini Sebab Letusan Tak Terlihat
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Rabu (9/9/2026) pukul 00.47 WIB, namun letusannya tidak dapat diamati secara visual karena tertutup kabut menurut Kepala Pos Pemantauan di Desa Hargo Pancuran, Suwarno. BMKG melaporkan sebaran abu vulkanik bergerak ke arah barat laut hingga ketinggian 7.000 kaki berdasarkan citra Himawari-9, berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di sebagian Teluk Lampung. Masyarakat diimbau tetap waspada, mengenakan masker dan pelindung mata, serta hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG dan PVMBG.
Poin-Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau erupsi pada Rabu (9/9/2026) pukul 00.47 WIB.
- Data erupsi tercatat oleh MAGMA Indonesia.
- Letusan tidak dapat diamati secara visual karena tertutup kabut.
- Suwarno menjabat sebagai Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran.
- Data aktivitas seismik diperoleh dari Pos Pemantauan Pasauran, Banten.
- Data seismik diteruskan ke stakeholder dan pemerintah daerah di Lampung.
- BMKG melaporkan sebaran abu vulkanik pada 9/9/2026 pukul 07.00 WIB.
- Arah sebaran abu vulkanik menuju barat laut berdasarkan citra RGB Himawari-9.
- Abu vulkanik tersebar dari permukaan hingga ketinggian 7.000 kaki (sekitar 2,1 kilometer).
- Sebaran abu mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.
- BMKG memperingatkan potensi dampak pada kualitas udara dan jarak pandang.
- Masyarakat diimbau memakai masker dan pelindung mata saat keluar rumah.
- Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung dan mengurangi aktivitas luar ruangan.
- Masyarakat diimbau memantau informasi resmi dari BMKG dan PVMBG.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Liputan6.