Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Kesehatan Netral

MBG terus menuai korban: 50 ribu siswa keracunan, miliaran duit warga terbuang

Kamis, 10 September 2026, 10:15 WIB Sumber: Theconversation.com Dibaca 1 kali
Ukuran:

Dalam tiga hari (1–3 September 2026), enam kejadian keracunan massal program MBG terjadi di empat provinsi dengan sekitar 1.908 korban dari enam dapur SPPG, sehingga estimasi total korban sepanjang program jauh lebih besar dari laporan resmi. Studi memperkirakan kerugian sosial ekonomi Rp25–40 miliar, dengan Rp9,7–12 miliar ditanggung langsung rumah tangga untuk biaya transportasi, rawat inap, dan upah hilang, sementara korban juga menghadapi risiko komplikasi jangka panjang seperti sindrom hemolitik uremik, Guillain-Barré, dan gangguan perkembangan kognitif. Penutupan sementara 1.999 SPPG dinilai hanya pola respons berulang, bukan penyelesaian, karena Perpres 115/2025 tidak menyediakan mekanisme ganti rugi maupun pemulihan jangka panjang bagi korban.

Poin-Poin Utama

  • Dalam 3 hari (1–3 September 2026) tercatat 6 kejadian keracunan massal MBG di 6 kabupaten pada 4 provinsi dengan sekitar 1.908 korban dari 6 dapur SPPG.
  • Sebaran korban: Rembang, Jawa Tengah 777 orang; Sidoarjo, Jawa Timur 664 orang; Agam, Sumatra Barat 237 orang; Tana Toraja, Sulawesi Selatan sekitar 152 orang; Nganjuk, Jawa Timur 49 orang; Jember, Jawa Timur 29 orang.
  • Studi memperkirakan kerugian sosial ekonomi akibat keracunan MBG mencapai Rp25–40 miliar.
  • Sekitar Rp9,7–12 miliar dari kerugian tersebut berdampak langsung ke rumah tangga, dengan contoh beban Rp10,50 miliar dari total kerugian sosial Rp30,15 miliar.
  • Biaya yang ditanggung keluarga mencakup ongkos transportasi ke puskesmas/rumah sakit, makan penunggu, penginapan, dan upah hilang karena orang tua meninggalkan pekerjaan.
  • Komplikasi lanjutan yang dapat muncul meliputi hemolitik uremik, Guillain-Barré, septikemia, artritis reaktif, kolitis ulseratif, dan irritable bowel syndrome.
  • Kuman penyebab yang teridentifikasi antara lain Campylobacter, E. coli O157:H7, Salmonella, dan Listeria.
  • Paparan timbal (Pb) pada bayi dan balita berisiko merusak perkembangan saraf yang memengaruhi konsentrasi, perhatian, dan kecerdasan.
  • Diare dan malnutrisi bawaan pangan berpotensi meninggalkan konsekuensi jangka panjang terhadap perkembangan dan fungsi kognitif anak.
  • Guru diminta mencicipi MBG terlebih dahulu sebelum disajikan kepada siswa.
  • MBG memangkas 13–68 menit waktu efektif belajar setiap hari untuk urusan logistik.
  • Dalam setahun, seorang siswa kehilangan 132 jam belajar (skenario menengah) hingga 249 jam (skenario tinggi), setara 55 hari sekolah atau 11 minggu pembelajaran.
  • Sekolah dan orang tua dinilai sebagai pihak paling lemah dalam evaluasi program MBG karena berada dalam rantai birokrasi.
  • Pemerintah menutup sementara 1.999 SPPG.
  • Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 mengatur pelaporan dan penanganan tetapi tidak menyediakan mekanisme ganti rugi, santunan, maupun pemulihan jangka panjang bagi korban.
Tagar Terkait
#mbg#makan bergizi gratis#bgn#sppg#kesehatan anak#kebijakan publik#celios#keracunan massal#bencana kesehatan#ekonomi rumah tangga
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Theconversation.com.

Buka Sumber di Theconversation.com

Warta Terkini Lainnya