CCTV Pemantau Anak Krakatau Rusak Usai Kena Lontaran Material Erupsi
Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan erupsi sejak 4 September malam. Kamera CCTV rusak kena lontaran material saat fenomena lava fountain terjadi. PVMBG pastikan pertumbuhan gunung pasca-2018 belum memicu potensi tsunami, namun warga diminta tidak mendekat radius 3 km dari kawah aktif karena status masih Level III Siaga.
Poin-Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan mengalami erupsi sejak Jumat, 4 September 2025 pukul 23.07 WIB.
- Kamera pengawas (CCTV) Gunung Anak Krakatau rusak akibat terkena lontaran material erupsi.
- CCTV terakhir merekam aktivitas erupsi pada pukul 01.01 WIB berupa fenomena lava fountain.
- Erupsi disertai dentuman dan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.
- Kegempaan mencatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi 21.600 detik.
- Kondisi cuaca di sekitar gunung api berawan hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang ke arah barat laut.
- Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta mewaspadai potensi tsunami.
- Tsunami pada 22 Desember 2018 berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
- PVMBG menyatakan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil.
- PVMBG menyatakan gunung tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
- Erupsi pada periode pengamatan 5 September 2025 pukul 00.00-06.00 WIB masih berlangsung berupa lava fountain.
- Gunung api teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0-III pada malam hari.
- Asap kawah tidak teramati dalam pemantauan visual.
- Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau tingkat Siaga.
- PVMBG merekomendasikan agar tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh CNN.